- Hasil SKM Puskesmas Butuh TW 2 2026
- BULETIN SURVEILANS
- Inovasi Bambu Runcing Puskesmas Butuh
- HASIL SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT 2025
- PENILAIAN KARYAWAN TERBAIK PUSKESMAS BUTUH TAHUN 2025
- HARI MALARIA SEDUNIA
- STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS BUTUH TAHUN 2024
- Survey kepuasan Pelanggan Butuh tahun 2024
- INOVASI ADUAN PUSKESMAS BUTUH
- MAKLUMAT PELAYANAN PUSKESMAS BUTUH
Inovasi Bambu Runcing Puskesmas Butuh

Rancang Bangun Inovasi BAMBU RUNCING
(Bersama Masyarakat BUtuh tuRUNkan dan Cegah stunting)
1. Dasar Hukum
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat dan Integrasi Layanan Primer (ILP).
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Stunting.
2. Masalahan
Berdasarkan data pemantauan capaian program gizi di Puskesmas Butuh pada Triwulan II (TW 2) Tahun 2026, prevalensi stunting mencatatkan angka 15,37%. Capaian ini masih melebihi target nasional dan daerah yang ditetapkan, yaitu < 14%.
Beberapa faktor mendasar yang menjadi akar penyebab tingginya angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Dibutuhkan antara lain:
Risiko anemia pada remaja putri dan Calon Pengantin (Catin) yang belum tersaring serta tertangani secara optimal sebelum memasuki jenjang pernikahan dan kehamilan.
Kapasitas kader Posyandu dalam pengolahan dan penyajian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal (PMT) yang memadai masih belum merata.
Pemenuhan gizi yang belum memadai pada tiga kelompok rentan sasaran utama (Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui/B3).
Penyakit penyerta atau infeksi kronis (seperti TBC Laten/TB Anak) pada balita yang belum terdiagnosis secara dini.
Kualitas lingkungan fisik (terutama sanitasi dan air minum) yang belum memenuhi syarat kesehatan.
Belum optimalnya kontinuitas rujukan dan pendampingan nutrisi lintas sektor dari desa/sekolah/KUA hingga ke Puskesmas.
3. Isu Strategis
Pendekatan Siklus Hidup Belum Terintegrasi Maksimal: Intervensi stunting harus mencakup seluruh siklus hidup, mulai dari remaja putri (sekolah), Calon Pengantin (Catin via KUA), Ibu Hamil, Ibu Menyusui, hingga Balita.
Penguatan Kapasitas Kader dalam Penyelenggaraan PMT Lokal: Kader Posyandu memerlukan pelatihan terstandar dalam mengolah PMT Lokal B3 yang sesuai dengan standar kecukupan gizi medis.
Intervensi Gizi B3 Berkelanjutan: Pemberian Makanan Tambahan harus menjangkau dan menjamin penyediaan gizi tiga kelompok rentan sekaligus (Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui).
Tingginya Infeksi Kronis Sebagai Etiologi Stunting: Gagal tumbuh pada balita sering kali disebabkan oleh infeksi laten seperti Tuberkulosis (TB) yang luput dari deteksi rutin.
Sinergitas Lintas Program & Lintas Sektor: memerlukan kolaborasi yang solid antara Puskesmas, Sekolah/Dinas Pendidikan, KUA, Pengelola Dapur MBG, Sanitarian, serta Kader Desa/PKK.
4. Metode Pembaharuan
Inovasi BAMBU RUNCING mengubah paradigma penanganan stunting parsial menjadi terintegrasi berbasis komunitas, lintas sektor, dan fasilitas kesehatan melalui 3 pembaruan utama:
Integrasi Pra-Konsepsi & Jalur Siklus Hidup: Mengisi celah pencegahan di tingkat hulu melalui Gerakan Aksi Bergizi di Sekolah dan Pemeriksaan Kesehatan Catin terintegrasi KUA sebelum memasuki usia kehamilan.
Pemberdayaan Kader Berbasis Pelatihan PMT B3 & Fast-Track Rujukan: Melatih kader Posyandu secara intensif dalam pengolahan PMT pangan lokal serta memperkuat peran kader dalam deteksi weight faltering dan rujukan langsung ke Puskesmas.
Pencegahan Multidimensi (Medis, Nutrisi, Lingkungan, & Sektor Publik): Menggabungkan intervensi medis (Mantoux, rujukan dokter), menyalurkan gizi (PMT B3, Dapur MBG), dan kesehatan lingkungan (tes air minum) secara sistematis.
5. Keunggulan
Holistik Dari Hulu ke Hilir: Pencegahan diawali sejak masa remaja sekolah (Aksi Bergizi), persiapan pernikahan (Skrining Catin), masa kehamilan & menyusui (PMT B3), hingga tumbuh kembang balita.
Kader Terlatih & Mandiri: Kader Posyandu memiliki keterampilan praktis mengolah PMT Pangan Lokal yang adekuat nutrisi serta tanggap rujukan dini.
Penguatan Nutrisi Terfokus pada 3 Kelompok Sasaran (B3): Menjamin intervensi gizi tidak terputus sejak janin dalam kandungan hingga masa ASI eksklusif dan MPASI.
Deteksi Dini Penyerta Infeksi memastikan: Penggunaan tes Mantoux secara proaktif pada balita bermasalah gizi penyakit TBC laten tidak terabaikan.
Sinergi Efektif Lintas Sektor: Mengoptimalkan peran Sekolah, KUA, Dapur MBG, dan Kader Desa untuk mendukung intervensi kesehatan Puskesmas.
6. Cara Kerja Inovasi
1. Skrining Anemia & Aksi Bergizi Sekolah
Skrining kadar Hb secara berkala di sekolah dan Posyandu Remaja. Pelaksanaan rutin "Aksi Bergizi di Sekolah" (sarapan bersama, edukasi gizi, dan minum Tablet Tambah Darah / TTD bersama).
2. Skrining & Edukasi Kesehatan Catin
Pemeriksaan kesehatan wajib Catin di Puskesmas (status gizi, Hb/anemia, imunisasi). Hasil skrining menjadi bagian dari bimbingan ekologi di KUA untuk pencegahan awal risiko Bumil KEK.
3. Pelatihan Pengolahan PMT Bagi Kader
Menyelenggarakan pelatihan praktis (cooking class dan higienitas sanitasi) bagi kader Posyandu untuk mampu menyusun menu dan mengolah PMT Berbahan Pangan Lokal kaya protein hewani.
4. Pelibatan Kader & Alur Rujukan PKM
Pemantauan rutin oleh kader pelatihan. Jika ditemukan balita weight faltering/stunted atau Bumil/Busui KEK, kader langsung Merujuk melalui jalur fast-track ke Puskesmas.
5. Pemeriksaan Dokter & Rujukan Lanjutan
Evaluasi medis menyeluruh oleh Dokter Puskesmas untuk evaluasi red flags, status gizi, dan etiologi. Jika ditemukan penyulit/kasus berat, dirujuk ke Spesialis Anak/RSUD.
6. Pemberian PMT B3 (Lokal)
Pemberian PMT Lokal gizi padat protein hewani hasil makanan kader terlindungi selama masa intervensi terukur bagi Balita bermasalah gizi, Bumil KEK, dan Busui.
7. Pelaksanaan Tes Mantoux
Uji Tuberkulin (Tes Mantoux) di Puskesmas bagi balita stunting atau gagal tumbuh tanpa sebab jelas guna mendeteksi infeksi TB laten/aktif sebagai penyulit medis.
8. Tes Air Minum & Konseling Kesling
Kunjungan ke rumah oleh Puskesmas Sanitarian untuk menguji kualitas fisik & bakteriologis air minum serta edukasi sanitasi lingkungan guna memutus rantai penyakit infeksi.
9. Koordinasi dengan Program MBG
Sinkronisasi data sasaran Puskesmas dengan pengelola Dapur MBG agar distribusi Makan Bergizi Gratis selaras dengan kebutuhan gizi medis dan mendukung percepatan penurunan stunting.
_(11_×_3_cm)1.jpg)





